Beranda | Artikel
Ancaman Gangguan Setan dan Perlindungan Diri
8 jam lalu

Ancaman Gangguan Setan dan Perlindungan Diri adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Shahih Jami’ Ash-Shaghir. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah pada Kamis, 20 Rabiul Akhir 1448 H / 01 Oktober 2026 M.

Kajian Tentang Ancaman Gangguan Setan dan Perlindungan Diri

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ

“Sesungguhnya setan menyusup dalam diri anak Adam melalui aliran darah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berjalan bersama istrinya, Shafiyyah, pada kegelapan malam saat iktikaf, beliau segera menjelaskan keberadaannya kepada para sahabat agar terhindar dari prasangka buruk akibat bisikan setan. Selain gangguan maknawi berupa bisikan dan penyesatan, setan juga dapat memberikan gangguan fisik atau jasmani.

احْبِسُوا صِبْيَانَكُمْ حَتَّى تَذْهَبَ فَوْعَةُ الْعِشَاءِ

“Tahanlah anak-anak kalian sampai awal malam berlalu, karena pada saat itu setan berkeliaran.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim)

Al-Munawi dalam kitab Faidhul Qadir menjelaskan bahwa hadits tersebut menegaskan adanya waktu-waktu tertentu saat setan berkeliaran di tengah masyarakat dan berpotensi menimbulkan gangguan. Menahan anak-anak di dalam rumah saat maghrib merupakan anjuran syariat. Keselamatan sebagian orang yang melanggar anjuran ini tidak membatalkan kebenaran hadits, mengingat banyaknya kasus gangguan penyakit dan bahaya fisik akibat setan.

Anjuran Menutup Pintu dan Wadah

غَطُّوا الْإِنَاءَ وَأَوْكُوا السِّقَاءَ وَأَغْلِقُوا الْبَابَ وَأَطْفِئُوا السِّرَاجَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَحُلُّ سِقَاءً وَلَا يَفْتَحُ بَابًا وَلَا يَكْشِفُ إِنَاءً

“Tutuplah bejana makanan, ikatlah wadah minuman, kuncilah pintu, dan padamkanlah lampu. Sesungguhnya setan tidak dapat membuka wadah yang terikat, tidak dapat membuka pintu, dan tidak dapat membuka penutup bejana.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Setan memiliki kemampuan yang terbatas sehingga tidak dapat membuka pintu, bejana, maupun wadah makanan yang telah ditutup rapat. Manusia diperintahkan untuk melakukan ikhtiar fisik dengan menutup wadah-wadah tersebut sembari mengingat Allah ‘Azza wa Jalla.

إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ لَا مَبِيتَ لَكُمْ وَلَا عَشَاءَ وَإِذَا دَخَلَ فَلَمْ يَذْكُرِ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيتَ وَإِذَا لَمْ يَذْكُرِ اللَّهَ عِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيتَ وَالْعَشَاءَ

“Jika seseorang memasuki rumahnya lalu berdzikir kepada Allah ketika masuk dan ketika makan, setan berkata kepada kawan-kawannya, ‘Tidak ada tempat menginap dan tidak ada makan malam untuk kalian.’ Apabila ia masuk dan tidak berdzikir kepada Allah ketika masuk, setan berkata, ‘Kalian mendapatkan tempat menginap.’ Dan apabila ia tidak berdzikir kepada Allah ketika makan, setan berkata, ‘Kalian mendapatkan tempat menginap dan makan malam.’” (HR. Muslim)

Setan senantiasa memanfaatkan kelalaian manusia untuk mengambil kesempatan. Oleh karena itu, celah tersebut harus ditutup, termasuk menjaga anak-anak agar tidak berkeliaran di luar rumah saat waktu magrib tiba. Larangan keluar rumah saat magrib berlaku bagi aktivitas yang tidak bermanfaat atau sekadar bermain, sedangkan aktivitas yang memiliki hajat atau maslahat ibadah, seperti berangkat ke masjid, tetap diperbolehkan.

Debat Nabi Adam dengan Nabi Musa

Kita berpindah pada hadits yang ke-183, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

احْتَجَّ آدَمُ وَمُوسَى فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى

“Nabi Adam dan Nabi Musa berdebat, lalu Nabi Adam mengalahkan Nabi Musa dalam perdebatan tersebut.” (HR. Muslim)

Hadits berikutnya menafsirkan lebih rinci:

“Nabi Adam dan Nabi Musa saling berdebat. Nabi Musa berkata, ‘Engkau adalah Adam yang Allah ciptakan langsung dengan tangan-Nya, ditiupkan kepadamu ruh ciptaan-Nya, para malaikat diperintahkan bersujud kepadamu, dan engkau ditempatkan di dalam surga-Nya, namun engkau dikeluarkan dari surga karena dosamu.’”

Ahlus Sunnah meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan Nabi Adam ‘alaihissalam secara langsung dengan tangan-Nya. Pandangan ahli takwil yang menafsirkan tangan Allah sebagai kekuatan tidaklah tepat. Jika penciptaan tersebut dimaknai sebatas kekuatan, seluruh makhluk dan alam semesta pun diciptakan oleh Allah dengan kekuatan-Nya, sehingga keistimewaan penciptaan Nabi Adam menjadi hilang.

Seluruh makhluk, baik malaikat, jin, maupun manusia, diciptakan dengan kekuatan Allah ‘Azza wa Jalla. Namun, Nabi Adam ‘Alaihis Salam memiliki keistimewaan khusus karena Allah ‘Azza wa Jalla menciptakannya langsung dengan kedua tangan-Nya. Ahlussunnah wal Jama’ah memiliki kaidah dalam berakidah untuk mengimani asma dan sifat Allah ‘Azza wa Jalla tanpa menyamakan tangan Allah dengan tangan makhluk-Nya. Dalil-dalil mengenai hal ini sangat banyak.

Setelah menciptakan Nabi Adam ‘Alaihis Salam dan meniupkan ruh ke dalam jasadnya, Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan malaikat dan jin untuk sujud serta mengizinkannya masuk surga. Nabi Musa ‘Alaihis Salam mempertanyakan perbuatan Nabi Adam yang keluar dari surga akibat dosanya sehingga keturunannya harus lahir di dunia dan menghadapi berbagai kesulitan. Nabi Adam menjawab dengan mengingatkan kedudukan Nabi Musa sebagai rasul pilihan yang diajak berbicara langsung oleh Allah ‘Azza wa Jalla.

Sifat Kalam bagi Allah ‘Azza wa Jalla

Ahlussunnah wal Jama’ah meyakini bahwa Allah ‘Azza wa Jalla memiliki sifat berbicara. Hakikat bagaimana cara Allah berbicara tidak perlu dibahas, ini diserahkan sepenuhnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla karena berbicara-Nya tidak sama dengan makhluk, baik manusia, hewan, angin, maupun pohon. Dalil mengenai sifat kalam ini ditegaskan di dalam Al-Qur’an.

وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا

“Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung.” (QS. An-Nisa’ [4]: 164)

Ayat tersebut menggunakan lafal yang tegas sehingga tidak dapat ditakwilkan bahwa Nabi Musa yang mengajak bicara Allah. Penegasan serupa juga terdapat dalam ayat lain ketika Nabi Musa mendatangi tempat yang ditentukan dan Allah ‘Azza wa Jalla berbicara kepadanya secara langsung.

Ketinggian Allah ‘Azza wa Jalla di Atas Langit

Nabi Adam juga mengingatkan Nabi Musa bahwa Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan Taurat kepadanya. Secara kaidah bahasa Arab, sesuatu yang turun bergerak dari atas ke bawah, yang menunjukkan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla berada di atas. Ketinggian Allah di atas langit selaras dengan fitrah manusia dan ditegaskan dalam Al-Qur’an.

أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِ

“Apakah kamu merasa aman terhadap Dzat yang di langit?” (QS. Al-Mulk [67]: 16)

Bahkan orang awam yang tidak mempelajari dalil secara mendalam memiliki fitrah naluriah untuk meyakini bahwa Allah ‘Azza wa Jalla berada di atas. Dalam bahasa Arab, langit bermakna ketinggian, yang menunjukkan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla memang berada di atas seluruh makhluk-Nya.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian lengkapnya.

Download MP3 Kajian


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56588-ancaman-gangguan-setan-dan-perlindungan-diri/